Pembangunan transmigrasi masa lalu penting dikemukakan disini mengingat acapkali kesalahan sejarah itu terulang kembali. Sehingga agar tidak terjadi kesalahan yang sama, maka pembangunan transmigrasi yang berwawasan tertentu harus dipelajari.
Kalau kita lihat sejarah istilah transmigrasi pertama kali dikemukakan oleh Bung Karno pada tahun 1927 dalam Harian Soeloeh Indonesia. Kemudian Egbert de Vries pakar berkebangsaan Belanda pada tahun 1934, selanjutnya Bung Hatta dalam Konferensi Ekonomi di Yogyakarta pada tanggal 3 Februari 1946.
Kemudian pada jaman pemerintahan Hindia Belanda kegiatan transmigrasi disebut kolonisasi, walaupun pada akhirnya Belanda juga mulai menggunakan istilah yang sering dikemukakan kedua tokoh founding father itu. Transmigrasi diartikan pada masa itu sebagai program pemindahan penduduk yang menyeberangi laut (trans), dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa. Dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pembangunan daerah-daerah di luar pulau Jawa.
Terlihat disitu bahwa pemerintah Indonesia menjelang kemerdekaan memutuskan untuk melanjutkan program tersebut dengan tujuan untuk mempersatukan bangsa Indonesia agar lebih kokoh lagi melalui berbauran antar etnis. Dan itu berlanjut sampai reformasi yang dimulai sejak tahun 1998.
DI ALAM KEMERDEKAAN
Yang menjadi landasan penyelenggaraan transmigrasi adalah langsung dari UUD-1945, kemudian dijabarkan dalam Keputusan Menteri, sehingga tujuan transmigrasi terkesan menjadi sangat luas. Kemudian pada tahun 1960 berhasil dirumuskan PERPU Nomor 29, tentang Pokok-Pokok Penyelenggaraan Transmigrasi. Dalam PERPU tujuan penyelenggaraan transmigrasi dibatasi atau dipersempit pada hal-hal yang menyangkut: keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan seluruh rakyat dan memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dengan jalan :
Membuka sumber-sumber alam dan mengusahakan tanah secara teratur;
Mengurangi tekanan penduduk di daerah-daerah padat penduduk dan mengisidaerah kosong atau tipis penduduk.
DI ERA REFORMASI DAN LIBERALISASI
Pada era reformasi dan liberalisasi bentuk pemerintahan berwujud menjadi otonomi daerah. Satu tahun menjelang era reformasi dan liberalisasi tersebut lahirlah Undang-Undang R.I. Nomor 15 Tahun 1997, tentang Ketransmigrasian.
Dalam undang-undang tersebut penyelenggaraan transmigrasi ditujukan untuk meningkatkan kesejaheteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya, peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa. Tujuannya lebih disederhanakan agar daerah (otonomi) dapat mengembangkan sesuai dengan kebutuhannya. Tujuan itu hanya bingkai pembatas, di dalamnya harus berkembang sesuai kondisi masing-masing daerah. Kondisi yang beragam harus dilihat sebagai suatu hikmah. Tujuan ketahanan dan pertahanan tidak dimasukkan karena dianggap sudah terwakili dalam tujuan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan tidak akan popular di alam reformasi.
Dalam penyelenggaraan pembangunan transmigrasi, pasal mengenai kesatuan dan persatuan bangsa, tidak pernah terlewatkan. Artinya itulah yang menjadi esensi dari penyelenggaraan transmigarsi, karena kondisi negara dan bangsa yang masih bercerai-berai, yang memerlukan ikatan-ikatan atau perekat-perekat yang kuat dari lubuk hati yang dalam yang mampu mempersatukan kita sebagai bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
sumber : http://bto.sisfo.net/tentang/sejarah.php
November 14, 2008
TRANSMIGRASI MASA LALU
Labels: sejarah
Posted by admin at 11/14/2008 11:59:00 PM 0 comments
October 22, 2008
Profile - H. SURIPNO SUMAS, SH, MH
Tanggal: 01 Jul 2008
Sumber: Menapak Jalan Berbukit
BursaTransmigrasi.net - Jakarta, Dari tukang parkir sampai menjadi Kepala Dinas Perhubungan Kota Banjar Baru. ltu barangkali untuk menggambarkan simpulan perjalanan hidup H. Suripno Sumas, SH, MH. Sebelum mengenal lebih jauh, ada baiknya kita menelusuri masa kecilnya. Suripno Sumas dilahirkan di Sungai Tabuk, salah satu permukiman transmigrasi Riam Kanan II, Kalimantan Selatan, tanggal14 Februari 1950. Terlahir dari orang tua bernama Bapak Soedjoko Rais dan Ibu Hj. Masdiah. Gabungan nama Soedjoko Rais dan Masdiah inilah yang kemudian disingkat menjadi SUMAS. Singkatan nama ini yang digunakan sebagai tambahan nama khas anak-anak dari keluarga Bapak Soedjoko Rais dan Ibu Hj. Masdiah. Seperti Suripno Sumas, Suwarso Sumas (almarhum),dan si bungsu Sugiarto Sumas (Wakil Sekjen DPP PATR!). Suripno Sumas menyelesaikan SD/Sekolah Rakyat di Sungai Tabuk. Kemudian SMP dan SMA (SMA Negeri 2) di Banjarmasin yang berjarak 14 km dari Sungai Tabuk. Perjalanan ke sekolah ditempuh dengan naik sepeda. Untuk membantu meringankan beban biaya sekolah bagi kedua adiknya, Suripno sebagai anak pertama bekerja sebagai tukang parkir di lokasi Rumah Sakit Umum Ulin, Banjarmasin. Usaha ini dilakukan setiap sore, dan berlanjut hingga Suripno menjadi mahasiswa fakultas hukum di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin hingga tahun ke III. Setelah memperoleh gelar Sarjana Muda Hukum, Suripno mendaftarkan diri sebagai pegawai negeri sipil pada Departemen Perhubungan. Penugasan pertama adalah pada Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (DLAJR) Kota Banjarmasin (1976). Setelah itu berturut-turut mengalami beberapa penugasan, diantaranya: sebagai Kepala Cabang Dinas LLAJR Kota Banjarmasin (1982-1989), sebagai Kepala Badan Kesbang Linmas Kota Banjar Baru (2001-2002), dan sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kota Banjar Baru (2002-2005). Pengalaman organisasi yang pernah dan sedang diikuti oleh H. Suripno Sumas, SH, MH di antaranya:1. Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Banjarmasin (1971-1974)2. Bendahara DPW Pemuda Muhammadiyah Provinsi Kalimantan Selatan (1975-1980)3. Ketua DPD AMPI Kota Banjarmasin (1987-1992)4. Ketua BAPPILU DPD Golkar Kota Banjarmasin (1992-1997)5. Ketua Himpunan Pengusaha MKGR Provinsi Kalimantan Selatan (1997-2003)6. Ketua Umum DPD PATRI Provinsi Kalimantan Selatan (periode 2004-2009)7. Ketua Harian Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Provinsi Kalimantan Selatan (2006-sekarang). Untuk melengkapi perkenalan kita dengan Suripno Sumas, ada baiknya ditulis di sini; bahwa tahun 2005 dia mengundurkan diri sebagai PNS. Hal ini dilakukan ketika Suripno mengikuti Pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pilkadasung) Kota Banjarmasin, sebagai Wakil Walikota Banjarmasin (periode 2005 - 2010). Berdasarkan hasil penghitungan, ternyata Allah belum merestui, sehingga pasangan Suripno Sumas belum berhasil dalam Pilkada tersebut. Namun demikian, pengalaman ini sangat berharga dalam proses penguatan kapasitas diri dimasa mendatang. Dalam kehidupan keluarga, Suripno Sumas menikah dengan Hj. Masriah, yang saat ini menjadi guru di SD Negeri Pengambangan 5 Kota Banjarmasin. Dari pernikahan tersebut pasangan ini mendapatkan 3 orang putra, yaitu: Bobby Indrawan, SE; Deddy Sophian, SE, dan si bungsu Harry Wijaya yang masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat. Bagi yang ingin bersilaturahmi lebih lanjut kepada Suripno Sumas, bisa hadir di rumahnya yang juga menjadi Sekretariat DPD PATRI Kalimantan Selatan; yaitu di : Jalan Veteran Kompleks Perintis Indah No. 28, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
source : http://bto.sisfo.net/ss/artikel.php?aid=491
Labels: Profile
Posted by admin at 10/22/2008 12:00:00 PM 1 comments
Petani Transmigrasi Berkebun Sawit: Berhajat Naik Haji ke Makkah Setiap Tahun
Tanggal: 19 Feb 2008
Sumber: Pemkab Rokan Hilir
BursaTransmigrasi.net - Bagansiapiapi, Riau,
SIAPA sangka pria berjenggot dengan raut muka penuh senyum, Maret mendatang menggenapi usianya 55 tahun hidup dalam keadaan berkecukupan. Sekilas pastilah orang-orang yang menatap sambil berlalu menyibak hidup Saimin hanya seorang petani biasa, kelas bawah dan tak ada apa-apanya. Eh tahunya, bapak empat anak itu tahun depan akan mewujudkan cita-citanya naik haji untuk kali pertama. Ia pun berhajat dalam hidupnya, setiap tahun naik haji.
Laporan Muryadi,
Bagansiapiapi
redaksi@riaupos.co.id
RUMAH huniannya memang tampak baru. Namun bekas-bekas bangunan transmigrasi tahun 1981 lalu masih sangat kentara. Lantai rumah yang masih utuh hanya di poles semen. Dinding rumah mungil yang sudah direnovasi itu juga masih dari papan. Bahkan atap pawon (dapur) juga masih terbuat dari rumbia. Namun tabungannya, setiap hari terus membengkak. Setiap bulan melonjak tajam, serta setiap tahunnya, 11 ton gabah kering parkir di beberapa kilang penggilingan padi nun terletak di ujung Blok B, Kepenghuluan Muktijaya, Kecamatan Rimbamelintang Kabupaten Rokan Hilir.
‘’Allah sudah memanggil. Tahun depan munggah kaji (naik haji) ujar Saimim dengan wajah sumringah didampingi beberapa anak dan cucu serta Ketua KTNA Rohil Alkahfi Sutikno saat melihat dari dekat geliat petani transmigrasi tulen di kawasan tersebut.
Saimin pada hakikatnya adalah seorang petani yang boleh jadi tidak ambil pusing dengan riak kehidupan diluar sana. Hari-hari Saimin dihabiskan di rumah, lahan usaha I dan lahan usaha II yang setia menemani dari awal ekspedisi pengiriman warga transmigrasi ke kawasan itu. Kini, Saimin yang sebenarnya masih tak menonjolkan pendapatan luar biasanya, merenda janji yang dicita-citakannya naik haji setiap tahun, bersama ahli baitnya.
‘’Dapat panggilan, syukur-syukur bisa setiap tahun,’’ aku Saimin polos.
Saimin adalah satu dari sekitar 600-an penduduk transmigrasi yang ada di Muktijaya. Bekal hidup yang hanya terlatih dan dibesarkan sebagai petani dari keluarga petani tak membuat hajat, cita-cita dan jalan hidupnya berubah. Kesempatan yang datang manis diraupnya tanpa mengenal lelah dan melupakan jerit tubuh yang semakin lansia. Hanya tekad, semangat dan pantang menyerah menjadikan harapannya subur, damai dan perlahan mulai nyata ada di depan mata.
Memiliki seperempat hektare lahan pekarangan, membuat Saimin bersama ratusan warga transmigrasi lainnya berhajat menjadikan sawit sebagai peneduh. Tiga seperempat Hektare Lahan Usaha II hingga tujuh tahun lalu juga digarapnya sebagai lahan pertanian padi plus. Serta satu hektare Lahan Usaha I masih setia ditanami padi, mampu menopang kebutuhan pangan, sandang, dan kesehariannya. Hingga tujuh tahun lalu, sindrom tanaman sawit menyeruak dan membelalakkan mata semua orang akan potensi yang abadi dan berkelanjutan.
‘’Sebagiannya malah belum tujuh tahun, ya mungkin sekitar satu hektare lah,’’ aku Saimin menyebut luas lahan usaha II yang kini dijadikan basis tanaman keras seperti sawit.
Saimin kini tinggal bersabar, sebab setiap jengkal lahan usaha II-nya memenuhi pundi-pundi tabungan hari tuanya. Ia juga cukup beruntung, karena satu hektare lahan usaha I yang hanya diperkenankan ditanami padi mampu memproduksi hingga 11 ton gabah kering kualitas unggul. meski pun terdengar berlebih, Saimin tetap saja mengaku ini semua rezki tuhan.
‘’Ini semua kan kebetulan. Juga karena ada Pak Kahfi yang nuntun,’’ imbuh Saimin menyebut peran serta KTNA yang kerap menyuguhi elemen modern guna meningkatkan produktifitas pertanian penduduk setempat.
Secara umum ia justru tidak kenal dengan alih fungsi lahan. Sebab setahunya, berhenti menanam padi adalah seperempat dari kematian hidup. Hanya saja, bila setiap tanam tidak ada hasilnya, itu juga sudah setengah dari kematian. Atas dasar apapun, semua orang ujar Saimim akan berputar kepala memikirkan langkah apa kelak yang dapat memenuhi keperluan hidup dan rumah tangganya.
Hari ini, ia merasa perubahan komoditas tanam dilahan usaha II-nya memang berdampak positif. Tidak hanya kepunyaannya, melainkan kepunyaan ratusan petani lain yang sama-sama mencecah kaki tinggal dihamparan Muktijaya. Meski awalnya hanya darah saja yang tidak keluar dari pori-pori tubuh yang mulai keriput dimakan waktu itu, semuanya sudah dirasakan.
‘’Akan wajar bila saat ini mereka menikmati perjalanan hidup dan yang lainnya juga akan segera menyusul. Meski alih fungsi lahan tak dapat dibendung, setidaknya dapat ditangkal bilamana produktifitas produksinya dapat didongkrak. Minimal setiap hektare untuk setiap tanam mampu menghasilkan 5,5 ton gabah kering,’’ sambung Alkahfi Sutikno, Ketua KTNA Rohil beberapa saat beranjak dari kediaman sejumlah warga eks transmigrasi di Muktijaya.
Namun yang terpenting, bagaimana upaya memaksimalisasi pendapatan dan memperkecil setiap resiko dari kegiatan usaha pertanian. Contoh nyata saja, untuk mendapatkan sertifikat berlabel saja terkadang masih sulit, sistem pertanian masih tradisional serta hadangan bencana seperti banjir, abrasi dan kemarau juga belum seutuhnya terpecahkan.***(my/pusdatintrans)
Source : BURSA TRANSMIGRASI ONLINE
Labels: kisah-sukses
Posted by admin at 10/22/2008 11:48:00 AM 1 comments
Bandar Kerupuk yang Membumi
Haji Ellon namanya , sosoknya sederhana, bukan lulusan universitas, berbicara dengan bahasa apa adanya dengan logat sunda yang kental, sosoknya mencerminkan orang yang sarat dengan perjuangan hidup, saat ini beliau seorang wirausaha yang boleh dikatakan sukses, meniti bisnis diawali sebagai buruh disebuah industri kecil, berkeliling berjalan membawa dagangan kerupuk , kemudian merintis usaha berbekal ketekunan,keberanian, kerja keras, cucuran keringat, komitmen, kejujuran dan sampai sekarang menjadi pemilik perusahaan/ bandar besar industri pengolahan makanan (kerupuk) yang sukses.
saya berkenalan dengan beliau ketika sama-sama menjadi pembicara/nara sumber pada acara Pembinaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) diwilayah Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung. Dalam acara tersebut beliau menjadi narasumber berkaitan dengan success story yang bersangkutan, beliau bercerita banyak mulai saat merintis usaha, kiat-kiat dengan berbagai cerita suka maupun dukanya dan yang menarik adalah motto beliau yang diterapkan dalam pengeloalan usaha hingga menjadi besar sampai saat ini , yaitu :
“Menabung…….. suka Ngutang ……….. dan Cepat bayar “
Motto inilah katanya yang menjadikan beliau menjadi pengusaha sukses, dengan azzet dan omzet penjualan ( konon produk krupuknya sudah menembus pasar Malaysia dan Brunai) yang luar biasa, sekaligus menjadi perenungan bagi diri saya, dikaitkan dengan fenomena bisnis dengan segala intrik yang berkembang pada saat ini.
Inti dari motto tersebut menurut pandangan saya adalah “kredibilitas dan kejujuran.”
Orang melaksanakan kegiatan bisnis apapun alasannya, tujuan satu yaitu mengumpulkan laba, akan tetapi dengan semakin berkembangnya bisnis saat ini, nilai-nilai tersebut semakin memudar, bisnis terkadang kehilangan etika, sikut sana-sini, hantam kromo, yang lebih parah lagi menginjak yang lemah, membuat mereka semakin papa, puritan dan termarginalkan, kemudian lambat laun bisnis akan menghalalkan segala cara.
Lantas apa yang terjadi, jika kondisi ini tidak dapat diperbaiki melalui proses kesadaran beretika dalam berbisnis ?
Yang terjadi adalah Tragedi kemanusian!
ya tragedi kemanusiaan, karena bisnis sulit dipisahkan dari kekuasaan!
Kredibilitas dan kejujuran adalah faktor utama yang harus dimilki seorang entrepreneur, kalau Bisnis Owner tidak bisa dipercaya dan jujur, tidak berpatok pada etika dan kebenaran, akan di bawa kemana arah perusahaan ? karena owner bisnis adalah pimpinan, pimpinan ibarat Nakhoda kapal, dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan, semua arah, langkah dan strategi perusahaan ditentukan oleh pimpinan, pimpinan harus memiliki kejujuran. Roda bisnis harus di awali dalam kerangka mekanisme pasar yang jujur, penuh kode etik dan rasa kemanusian dengan mengedepankan etika, etika berkaitan dengan moral, moral identik dengan mental, sikap, tindakan dan prilaku, landasan etika tersebut dalam dunia bisnis, sering disebut : etika Bisnis.
Sekali lagi kejujuran ; sepenggal kata sederhana, kata itu selalu menggema, di rumah, disekolah, di tempat ibadah dan sering gaung kejujuran terlontar dari mulut ulama dan pejabat di negeri ini seakan telah menjadi doktrin, akan tetapi pada kenyataannya sulit dilakukan, oleh karena jaman sekarang lebih sulit mencari manusia yang jujur, ketimbang mencari manusia yang brilian sekaligus opurtunis
Haji Ellon menjadi entrepreneur sukses karena dapat mempertahankan kredibilitas dan kejujuran, kedisplinan dalam menabung, keberaniaan berhutang dengan perencanaan dan target yang terukur. Munculnya kesadaran dini tentang kewajiban membayar hutang secepatnya, serta dapat memelihara kepercayaan yang diamanatkan dari mitra maupun koleganya, bertahun-tahun relationship itu dibangun, dijaga , dipertahankan dan dipelihara, semua kesuksesan beliau sekarang ini adalah buah dari cucuran keringat, kerja keras, jawaban dari pengharapan, cita-cita serta do’a
Ternyata menjadi entrepreneur sukses tidak harus selalu sekolah tinggi di universitas terkenal, membaca buku-buku tebal kiat berbisnis, akan tetapi cukup dengan ketekunan, keberanian. Komitmen,, tempaan mekanisme pasar, kredibilitas dan kejujuran, baru faktor pendukungnya adalah kemampuan dengan didukung instuisi bisnis yang tajam untuk memberi inspirasi, menangkap peluang, berani menghadapi tantangan dan melihat masa depan dengan cemerlang
Motto Haji Ellon, motto yang sederhana, ……tidak utopis ……dan membumi.
(Rahmat Saepulloh)
Source : http://www.karir-up.com/2008/10/bandar-kerupuk-yang-membumi/
Labels: dunia-usaha
Posted by admin at 10/22/2008 11:23:00 AM 1 comments
August 29, 2008
Malaysia Pulangkan Tenaga Kerja Asing
Pemerintah Malaysia berencana memulangkan hingga 500 ribu pekerja asing pada 2009. Langkah ini untuk meningkatkan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal. Pemerintah juga akan mendorong para majikan untuk menggunakan tenaga lokal.
Saat ini, sekurangnya ada 2,3 juta pekerja asing dari 11 juta tenaga kerja di Malaysia. Belum lagi dengan keberadaan tenaga kerja asing ilegal. Mereka bekerja di sejumlah sektor antara lain manufaktur, perkebunan, dan rumah tangga.
Sekjen Departemen Dalam Negeri, Raja Azahar Raja Abdul Manap yang dikutip harian Daily Star , Ahad (20/1) mengatakan pemerintah menargetkan pada 2009 hanya ada 1,8 juta tenaga kerja asing. Pada 2015 diharapkan hanya ada 1,5 juta tenaga asing yang ada di Malaysia. Namun para tenaga kerja asing di bidang konstruksi, manufaktur, dan perkebunan mungkin kurang terimbas rencana itu.
''Kami perlu menghilangkan ketergantungan pada pekerja asing dan meninjau kembali kebijakan mengenai tenaga kerja asing,'' katanya. Raja Azahar mengatakan selama ini pemerintah begitu longgar hingga mengizinkan para majikan membayarkan upah lebih murah untuk tenaga kerja asing. Namun kini, mereka harus berpaling ke tenaga kerja lokal dengan upah pantas sesuai penawaran dan permintaan.
Menurut Raja Azahar, pemerintah kini akan lebih ketat. Sebab selama ini pemerintah telah bertindak secara liberal. Ia menambahkan, pekerja asing yang berketerampilan akan diizinkan tinggal hingga sepuluh tahun. Kebijakan yang berbeda akan ditetapkan pada pekerja yang tak berketerampilan.
Para tenaga kerja asing tak berketerampilan yang telah tinggal lima tahun di Malaysia tak akan diperpanjang izinnya. Menurut kantor berita Associated Press , kebijakan ini akan mampu memangkas keberadaan tenaga kerja asing di Malaysia sebesar 200 ribu orang hingga tahun ini. Raja Azahar mengatakan tak ada batas waktu bagi tenaga kerja asing, yang menjadi pembantu rumah tangga. Namun ia menyatakan pemerintahan menetapkan persyaratan bagi para majikan, yaitu hanya yang berpenghasilan 5.000 ringgit atau 1.515 dolar AS sebulan yang bisa mempekerjakan pembantu.
Sumber : Buletin Integrasi
Labels: Malaysia Pulangkan Tenaga Kerja Asing
Posted by admin at 8/29/2008 10:09:00 PM 1 comments
Press Release Pemilihan Transmigran dan Pembina UPT Teladan Tingkat Nasional 2008
Jakarta, 15 Agustus 2008
Sebagai upaya memberikan motivasi, perhatian dan penghargaan kepada para transmigran dan Pembina UPT (Unit Pemukiman Transmigrasi), Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyelenggarakan pemilihan Transmigran dan Pembina UPT Teladan Tingkat Nasional. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun dalam kaitannya dengan rangkaian peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pemilihan Transmigran dan UPT Teladan Tingkat Nasional pada tahun 2008 ini diikuti 23 orang Transmigran Teladan dan 23 orang Pembina UPT Teladan yang berasal 23 Provinsi di Seluruh Indonesia. Dalam ajang pemilihan ini diadakan melalui proses seleksi dan penilaian yang ketat.
Adapun kriteria pemilihannya bagi Transmigran Teladan diantaranya meliputi, tingkat ekonomi (pendapatan, produktivitas dan penyerapan tenaga kerja), kesehatan, pendidikan, partisipasi dan mental spritual serta peranan istri dalam kesejahteraan masyarakat. Sedangkan kriteria Pembina UPT meliputi aspek moral, kompetensi, prestasi kerja serta pencapaian keberhasilan tugas pembinaan di lokasi transmigran.
Demikian diungkapkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dr. Ir. Erman Suparno MBA, M. Si dalam rangkaian kegiatan Pemilihan Transmigran dan Pembina UPT Teladan Tingkat nasional yang diadakan di Kantor Depnakertrans Jl. Kalibata No. 17 Jakarta Selatan, Jumat (15/8).
Menakertrans mengatakan dalam bidang transmigrasi saat ini tengah dilakukan terobosan dengan melakukan revitalisasi dan reorientasi pengembangan kawasan transmigrasi yang sudah ada serta yang kawasan transmigran yang baru. Konsep pendekatan ini mengarah menuju terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan yang memiliki fungsi perkotaan yang dikenal dengan istlah ”Kota Terpadu Mandiri (KTM)”.
Ditambahkan Menakertrans, keberhasilan program pembangunan transmigrasi di Indonesia tergantung pada 3 (tiga) pokok utama yaitu pertama, ketersediaan lahan yang memenuhi syarat clean dan clear serta 4L yaitu layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan. Kedua, tersedianya sarana dan prasana pemukiman seperti fasilitas jalan, jembatan, pendidikan, kesehatan, fasilitas umum, sosial.
Ketiga, tersedianya Sumber Daya Manusia yang bisa memanfaatkan kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah di Indonesia. Sumber Daya Manusia yang menjadi andalan terdiri dari transmigran terampil, ulet, gigih dan berjiwa pionir untuk meningkatkan kesejahteraannya dan mendukung pembangunan daerah. Selain itu, dibutuhkan juga petugas pembina UPT yang berperan sebagai fasilitator, motivator, mediator sekaligus pendamping masyarakat dan bersedian mendedikasikan tenaga dan pikiran untuk membantu transmigran dan mayarakat sekitar dalam mewujudkan cita-citanya.
Pusat Humas Depnakertrans
Labels: Transmigran dan Pembina UPT Teladan
Posted by admin at 8/29/2008 09:22:00 PM 0 comments
August 08, 2008
Dari Penjual Es Kelapa Hingga Pemilik SPBU
Menapaki jenjang dari seseorang penjual es kelapa muda, Urpan Dani sukses mendirikan beberapa perusahaan. Kiatnya; keikhlasan dan doa.
Kru sebuah production house sedang sibuk menyorotkan kamera untuk merekam beberapa adegan di sebuah rumah di Citra Gran Blok E17 No. 6 Cibubur. Beberapa adegan dari sinetron tersebut memang mengambil lokasi di rumah Urpan Dani, pendiri beberapa perusahaan yang bergerak di bidang lumpur pengeboran, eksportir kayu manis, pemasok pasir, pengelola SPBU Petronas dan jual-beli properti.
Namun kisah sukses Urpan bukanlah sebuah kebetulan, seperti yang banyak terjadi dalam kisah-kisah sinetron kita. Sebelum memiliki beberapa perusahaan Urpan harus berjuang keras, bahkan sempat menjadi penjual es kelapa muda di Pintu II Senayan, dan menjual penjual tempe goreng. Semuanya dilakoni dengan ikhlas.
Sebenarnya, setamat kuliah di Fakultas ekonomi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta pada tahun 1989, pria kelahiran tahun 1964 ini sempat diterima menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Koperasi di tanah kelahirannya Kerinci. Tetapi ia mengaku tidak berminat menjadi PNS. Justru Urpan pergi ke Jakarta ikut pamannya. Lantaran tidak setuju dengan pilihan anaknya, orangtua Urpan tidak mengirimi uang belanja sehari-hari. Tetapi Urpan tidak menyerah begitu saja. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari ia harus berjualan es kelapa muda, kemudian menjadi penjual tempe goreng.
Di sela-sela menekuni ‘profesinya’ itu, Urpan mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan. Sempat tes di Pertamina sampai tahapan ketiga, tetapi akhirnya gagal. “Jumlah lamaran sampai 300 lebih,” ungkap Urpan. Dari salah satu lamarannya, Urpan diterima di sebuah perusahaan lumpur pengeboran yang kantor pusatnya di Jakarta. Tetapi Urpan ditempatkan di Palangkaraya. Pada pagi hari, Urpan menyelesaikan pekerjaan kantor. Di siang harinya, belajar mengoperasikan alat-alat berat, dan sore harinya belajar mengelas. Praktis tidak ada waktu luang untuk Urpan.
Tak lama berselang, Urpan ditarik ke Jakarta tetapi ditempatkan di pabrik. Di pabrik Urpan banyak belajar, mulai dari memproduksi bahan-bahan pendukung lumpur pengeboran sampai mengelas plastik. Ia ingin menyerap semua ilmu tersebut. Ia yakin ilmu itu akan berguna kelak di kemudian hari. Keyakinannya tidak meleset. Prestasinya terus melesat, hingga akhirnya dipercaya menjadi general manager yang mengurusi semua kebutuhan perusahaan dari A sampai Z.
Di tengah karirnya yang terus menanjak, Urpan menyunting anak mantan bupati Kerinci, Gladia Rahmawati, pada tahun 1995. Dalam posisinya sebagai general manager, sering Urpan mengambil keputusan-keputusan penting diantaranya memilih rekanan perusahaan. Ternyata banyak rekanan perusahaan yang memberikan ‘uang terimakasih’. Hal ini justru membuatnya tidak nyaman. Hal ini ia sampaikan ke pemilik malah berujar,” ambil saja uang itu. Keuntungan perusahaan lebih besar daripada yang kamu dapatkan.”
Urpan merasa tidak nyaman. Ia berkeputusan untuk mengundurkan diri. Sebelum mengundurkan diri pada tahun 1997, Urpan melakukan sholat istikharah, untuk meminta petunjuk kepada Allah. Tak lupa ia meminta dukungan dari keluarganya maupun dari keluarga istrinya. Tak satu pun yang setuju ia mengundurkan diri, kecuali satu orang, yakni istrinya. Setelah sholat istikharah beberapa malam, Urpan mengambil keputusan bulat : mengundurkan diri dan siap-siap mendirikan usaha jual-beli mobil bekas.
Ternyata menjadi pengusaha itu tidak semudah membayangkannya. Usaha jual beli mobil bekas yang ia dirikan pada tahun 1997 dengan menggunakan bendera PT. Salsabila Rizky Pratama nyaris macet. Mobil-mobil terlanjur ia kirimkan ke Jambi untuk dijual ternyata seret. Tetapi ia sudah tidak bisa mundur lagi. Mobil-mobil itu ia tarik kembali ke Jakarta dan ia jual di Lapangan Ros dan Kalibata indah. Pada tahun-tahun awal hasilnya lumayan. Penjualan terus meningkat.
Di sela-sela mengiklankan mobil dagangannya, Urpan juga mengiklankan kayu manis dan menjalankan bisnis lumpur pengeboran, meski masih kecil-kecilan. Beberapa orang memesan kayu manisnya tetapi ternyata kebanyakan menipu. Setelah kayu manis dikirim, mereka tidak mengirimkan uangnya. Sudah jatuh tertimpa tangga, itu peribahasanya. Usaha kayu manis belum membuahkan hasil, bahkan ditipu, usaha jual-beli mobil bekasnya lesu. Apalagi, ia juga ditipu beberpa pedagang yan menjual mobil bodong. “Kerugian saat itu mencapai Rp. 250 juta,” tuturnya.
Di saat kondisi perusahannya letih lesu, Urpan justru mengambil keputusan untuk menunaikan ibadah haji bersama istrinya pada tahun 1991. Dengan uang seadanya, sebagian hasil pinjaman dari keluarganya, Urpan dan Gladia berangkat ke Tanah Suci. Di Al-Mutazzam, Urpan berdoa dengan khusuk. Memohonkan ampunan untuk leluhurnya yang sudah meninggal serta meminta keselamatan dan kesehatan bagi keluarga yang masih hidup. Di akhir doa, ia meminta agar Allah menunjukkan jalan dan meridhoi usahanya. Tak lama berselang, telepon genggamnya berbunyi. Isi pesan yang dikirim adiknya mengatakan PT. Salsabila mendapatkan proyek lumpur pengeboran dari sebuah perusahaan ternama. “Doa saya dibayar tunai. Saking senangnya saya menangis sampai “nungging-nungging” ucap Urpan yang kini membina ribuan petani kayu manis di Kerinci. Dari Al Mutazzam inilah terjadi perubahan yang luar biasa pada perusahaannya.
Penjualan kayu manis, yang semula diniatkan untuk membantu mengangkat harga sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani, mulai membuahkan hasil. Usaha lumpur pengeboran yang tadinya kecil mulai menggurita. Bahkan untuk memperbesar pemasaran 35 item produk Lumpur pengeborannya, Urpan berpatungan dengan rekannya untuk mendirikan PT. Prima Hidrokarbon Internusa pada tahun 2002. PT. Salsabila menjual secara ritel dan PT. Prima Hidrokarbon masuk ke tender-tender besar. Selain memasok 35 item bahan pendukung Lumpur pengeboran, PT. Prima Hidrokarbon juga melakukan pengeboran sendiri.
Perusahaan terus menggurita. Keenam adik Urpan ikut terlibat untuk membesarkan usaha yang didirikan sulung dari tujuh bersaudara ini. Perusahaan yang memiliki kantor pusat di Cibubur dan pabrik di Karawang ini memiliki sekitar 800 karyawan. Ekspansi usaha terus dilakukan. Bisnis properti (membeli rumah kemudian merenovasinya) yang sebelumnya tidak dirambah mulai dimasukinya. Bisnis perkayuan juga mulai dimasuki. Semua bisnis ini ditangani oleh adik-adiknya.
Sekitar akhir tahun 2005 lalu, Urpan kembali mendirikan perusahaan pemasok pasir, PT Pasir Bumi Nusantara. Salah satu adiknya, Faizal Kadni dipercaya untuk menjalankan usaha tersebut. Dalam hitungan bulan saja, PT Pasir Bumi Nusantara mampu memasok pasir ke Cibubur dan Jalan Kali Malang sebanyak 600-800 kubik per hari.
Si bungsu, Faizin Kadni yang pilih tinggal di Yogyakarta mendirikan perusahaan travel PT. Radin Pratama yang mengusung bendera Radin Tour. “Keberhasilan bukan semata-mata diukur dari banyaknya materi, tetapi juga keberhasilannya dalam membimbing adik-adik dan merukunkan keluarga,” kata Urpan.
Urpan sendiri sering mengatakan bahwa usahanya masih kecil. Namun orang lain, melihat pria ini sosok yang sukses. Buktinya, salah satu rumah produksi meminjam rumahnya untuk dijadikan lokasi syuting. Pelanggan lumpur pengeborannya juga perusahaan ternama, di antaranya Pertamina. Sedangkan penjualan kayu manisnya sudah merambah negara-negara di seantero dunia.
Ketika ditanya kiat suksesnya, Urpan mengatakan keikhlasan dan doa. “Ikhlas bukan berarti kita menyerah terhadap keadaan. Dalam berbisnis kita tetap harus berusaha keras. Berusaha untuk menciptakan produk berkualitas dan berusaha mendapatkan order sebanyak-banyaknya. Walau kita sudah bekerja keras tetapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang ditargetkan kita harus ikhlas menerimanya. Itulah makna ikhlas yang saya maksud. Selain ikhlas adalah doa. Bagi saya doa itu yang pertama, baru kemudian berusaha. Tetapi banyak orang yang mengatakan berusaha dulu baru berdoa. Silakan, itu pilihan masing-masing orang. Dan jangan lupa, di balik keuntungan yang kita peroleh terdapat harta hak orang lain, diantaranya fakir miskin dan anak yatim piatu. Kalau kita memberikan hak-hak mereka Insya Allah rejeki kita lancar, seperti Salsabila (oase di surga yang airnya terus mengucur),” pungkas pria yang Agustus tahun lalu mengoperasikan SPBU Petronas di Lenteng Agung ini.
(Rahmat saepulloh/ mp)
SOURCE: http://www.karir-up.com/2008/08/dari-penjual-es-kelapa-hingga-pemilik-spbu/
Labels: Dari Penjual Es Kelapa Hingga Pemilik SPBU
Posted by admin at 8/08/2008 10:21:00 PM 0 comments










